Selasa, 05 Januari 2016

HAKIKAT ILMU PENGETAHUAN

Posted by Unknown On 07.56 | 1 comment

Khazanah kehidupan manusia yang begitu luas memang memungkinkan menguasai segala pengetahuan. Satu orang menguasai berbagai ilmu pegetahuan mulai dari yang sederhana sampai ke yang kompleks. Tiap pengetahuan tentu ada berbagai ciri khas. Hal ini memungkinkan kita mengenali berbgai pengetahuan yang ada seperti ilmu pengetahuan, seni, dan agama serta meletakkan mereka pada tempatnya masing-masing yang saling memperkaya kehidupan kita. Orang dapat mengenal hakikat, sastra, dan budaya menurut katagori tertentu. Tanpa mengenal kategori atau ciri-ciri tiap pengetahuan dengan benar maka bukan saja kita dapat memanfaatkan kegunaannya secara maksimal namun kadang kita bisa terjerumus. Pengetahuan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang diketahui manusia. Manusia adalah makhluk hidup ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan makluk lain (hewan dan tumbuhan). Manusia makhluk yang paling sempurna karena manusia mempunyai akal yang selalu berkembang, sedangkan hewan mempunyai akal tetapi akalnya tidak berkembang atau disebut dengan insting.
Pengetahuan (knowledge) adalah sesuatu yang diketahui langsung dari pengalaman, berdasarkan panca indra, dan diolah oleh akal budi secara spontan. Pengetahuan masih pada tataran inderawi dan spontanitas, belum ditata melaui metode yang jelas. Pada intinya, pengetahuan bersifat spontan, subjektif dan intuitif. Pengetahuan berkaitan erat dengan kebenaran, yaitu kesesuaian antara pengetahuan yang dimiliki manusia dengan realitas yang ada pada objek. Pengetahuan juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang diketahui manusia. Manusia adalah makhluk hidup ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan makluk lain (hewan dan tumbuhan). Manusia makhluk yang paling sempurna karena manusia mempunyai akal yang selalu berkembang, sedangkan hewan mempunyai akal tetapi akalnya tidak berkembang atau disebut dengan insting. Namun, kadang-kadang kebenaran yang ada dalam pengetahuan masih belum tertata rapi, belum teruji secara metodologis. Orang melihat gunung meletus, itu pengetahuan. Orang merasakan gempa, lalu lari tunggang langgang ke luar rumah, itu pengetahuan. Pengetahuan masih sering bercampur dengan insting.
Ilmu (sains) berasal dari bahasa latin scientin yang berarti knowledge. Ilmu dipahami sebagai proses penyelidikan yang berdisiplin tertentu. Ilmu bertujuan untuk meramalkan dan memahami gejala-gejala alam. Meramalkan tidak lain sebuah proses. Meramalkan bisa saja melalui penafsiran. Ilmu sebenarnya juga sebuah pengetahuan, namun telah melalui proses penataan yang sistematis. Ilmu telah memiliki metodologi yang andal. Ilmu dan pengetahuan sering kali dikaitkan, hingga membentuk dunia ilmiah. Gabungan ilmu dan pengetahuan selalu terjadi di raanah penelitian apapun. Ilmu tanpa pengetahuan tentu sulit terjadi. Pengetaahuan yang disertai ilmu, jelas akan lebih esensial.
Ilmu pengetahuan ialah ilmu pengetahuan yang telah diolah kembali dan disusun secara metodis, sistematis, konsisten, dan koheren. Inilah ciri-ciri ilmu pengetahuan, yang membedakan dengan pengetahuan biasa. Agar pengetahuan menjadi ilmu, maka pengetahuan tadi harus dipilih (menjadi suatu bidang tertentu dari kenyataan) dan disusun secara metodis, sistematis, serta konsisten. Pengetahuan dan ilmu pengetahuan tentu berkaitan dengan realitas. Orang yang mempelajari pengetahuan dan ilmu pengetahuan akan menelususri realitas secara cermat. Hakikat kenyataan atau realiats memang bisa didekati dari sisi ontologi dengan dua macam sudut padang yaitu kuantitatif dan kualitatif.
Atas dasar pelacakan realitas, pengetahuan dan ilmu pengetahuan semakin kaya. Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Realita itu yang menarik perhatian para ilmuan. Tanpa realitas, kita sulit menyebut di dunia ini ada bermacam-macam air, bunga, angin, jamur, dan lain-lain. Realitas pula yang hendak menyadarkan manusia hingga tahu, bahwa ketika orang minum teh, sebenarnya sedang menikmati bunga, air, daun, dan sebagainya. Biarpun hanya minum teh, sebenarnya manusia tengah berfikir ribuan orang yang menghasilkan teh itu. Jadi, ontologi akan menguraikan asal-usul suatu fenomena secara mendasar atas dasar fakta-fakta, data-data, dan metode yang mantap. Sedangkan epistimologi merupakan persoalan bagaimana menemukan kebenaran tentang suatu objek materi, melalui berbagai macam sudut pandang (objek forma), metoda dan sistem. Menurut Suriasumantri aksiologi adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Aksiologi meliputi nilai-nilai, parameter bagi apa yang disebut sebgai kebenaran atau kenyataan itu, sebagaimana kehidupan kita yang menjelajahi kawasan, seperti kawasan sosial, kawasan fisik materiil, dan kawasan simbolik yang masing-masing menunjukan aspeknyasendiri-sendiri. Lebih dari itu, aksiologi juga mennjukan kaidah-kaidah apa yang harus kita perhatikan di dalam menerapkan ilmu kedalam praksis.







Kemampuan Manusia Mengembangkan Pengetahuan
Sejarah dunia telah menunjukkan peradaban yang lebih maju menaklukkan peradaban yang lebih terbelakang. Yang menang selanjutnya bisa saja ditaklukkan oleh peradaban lain lagi yang lebih maju. Kadang kalanya terjadi pengecualian di mana bangsa barbar mampu menaklukkan bangsa yang lebih maju seperti pada kasus invasi Mongol pada masa Genghis Khan. Pada intinya yang kuat bertahan, yang lemah ditaklukkan.
Ilmu pengetahuan, menjadi perintis yang membuat kemajuan teknologi menjadi lebih pesat dan tak terbayangkan. Ia melampaui batas-batas praktis ke ranah abstrak yang sulit dijangkau pikiran. Ilmu pengetahuan sendiri sebenarnya baru berkembang pada dua milenium terakhir. Namun bisa kita lihat sendiri betapa pesatnya perkembangan yang terjadi pada dua milenium terakhir ini.
Ilmu pengetahuan pun tidak berjalan linear. Ia dapat timbul dan tenggelam. Ia hanyut bersama dalam perkembangan peradaban manusia. Kapal dengan lambung melengkung yang merajai Mediterania di jaman Yunani kuno hilang ditelan peradaban dan baru ditemukan kembali pada era eksplorasi pada abad pertengahan.

Organization Chart

















METODA ILMIAH

          Metoda ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu (Budimansyah, 2013:42). Tapi, tidak semua pengetahuan disebut ilmu. Karena syarat-syarat untuk mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu tercantum dalam metoda ilmiah (scientific method). Menurut tim rosda dalam kamus filsafat (1995:204) pengertian scientific method adalah sebuah sistem konseptual empiris, eksperimental, logicomathematical yang mengelola dan menghubungkan fakta-fakta dalam sebuah struktur teori dan inferensi. Oleh karena itu, pengetahuan yang akan dihasilkan diharafkan memiliki karakteristik sebagai pengetahuan ilmiah yang memiliki sifat rasional dan teruji. Dalam hal ini maka metoda ilmiah merupakan cara berfikir gabungan antara rasional (deduktif) dan empirik (induktif).
Secara rasional ilmu meyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, sedangkan secara empirik ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak. Secara sederhana maka hal ini berarti bahwa semua teori ilmiah harus memenuhi dua syarat utama yakni (a) harus konsisten dengan teori-teori sebelumnya yang memungkinkan tidak terjadinya kontradiksi dalam teori keilmuan secara keseluruhan, dan (b) harus cocok dengan fakta-fakta empirik, sebab teori yang bagaimana pun konsistennya jika tidak didukung oleh pengujian empirik tidak dapat diterima kebenarannya secara ilmiah. Sehubungan dengan komitmen bahwa logika ilmiah itu merupakan gabungan antara logika deduktif dengan logika induktif, maka semua penjelasan rasional yang diajukan sebelum teruji kebenarannya secara empirik hanyalah bersifat sementara. Inilah yang kita kenal dengan nama hipotesis.
Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap permaslahan yang sedang kita hadapi. Dalam melakukan penelitian untuk mendapatkan jawaban yang benar maka seorang ilmuawan seakan-akan melakukan suatu ’interogasi terhadap alam’.
Alur berpikir yang tercakup dalam metoda ilmiah dapat dijabarkan dalam beberapa langkah yang mencerminkan tahap-tahap dalam kegiatan ilmiah. Kerangka berpikir ilmiah yang berintikan proses logiko-hipotetiko-verifikatif ini pada dasarnya terdiri atas langkah-langkah sebagai berikut.
  1. Perumusan masalah,
  2. Penyusunan kerangka berpikir,
  3. Perumusan hipotesis,
  4. Pengujian hipotesis,
5.         Penarikan kesimpulan,

Ilmu secara kuantitatif dikembangkan oleh komunitas ilmuawan secara keseluruhan, meskipun secara kualitatif memang diakui adanya beberapa ilmuawan jenius sebagai peletak landasan baru yang bersifat mendasar bagi perkembangan ilmu tersebut, seperti misalnya Newton dan Albert Einstein dalam ilmu-ilmu alam dan Max Weber, Emile Durkheim, dan Talcott Parsons dalam ilmu-ilmu sosial.
Pada hakekatnya pengetahuan ilmiah atau ilmu mempunyai 3 fungsi, yakni menjelaskan, meramalkan, dan mengontrol. Penjelasan  keilmuan memungkinkan kita meramal apa yang akan terjadi, dan berdasarkan ramalan tersebut kita bisa melakukan upaya untuk mengontrol apakah ramalan itu menjadi kenyataan atau tidak. Misalnya pengetahuan tentang adanya kaitan antara hutan gundul dan banjir memungkinkan kita untuk bisa meramalkan apa yang akan terjadi seandainya hutan-hutan terus ditebagi hingga gundul. Seandainya kita tidak menginginkan timbulnya banjir sebagaimana diramalkan jika hutan gundul, maka kita harus melakukan kontrol agar hutan-hutan tidak dibiarkan menjadi gundul, misalnya dengan menanami kembali hutan yang ditebang itu.
Teori
Posisi teori dalam disiplin keilmuan amat strategis. Pada hakekatnya tujuan akhir setiap disiplin keilmuan adalah mengembangkan teori yang bersifat utuh dan konsisten.
Hukum
Hukum pada hakekatnya merupakan pernyataan yang menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam suatu hubungan sebab-akibat (kausalitas). Posisi hukum berada dalam sebuah teori. Pernyataan yang berupa hubungan sebab-akibat atau hubungan kausalitas Prinsip
Disamping hukum dalam sebuah teori keilmua juga dikenal ada kategori pernyataan yang disebut prinsip. Prinsip dapat diaritkan sebagai pernyataan yang berlaku secara umum bagi sekelompok gejala tertentu, yang mampu menjelaskan kejadian yang terjadi
Postulat
postulat adalah asumsi dasar yang kebenarannya kita terima tanpa dituntut pembuktiannya. berbeda dengan kebenaran ilmiah yang harus disahkan melalui suatu proses yang disebut metoda ilmiah, postulat ditetapkan tanpa melalui prosedur ilmiah melainkan ditetapkan begitu saja.
Asumsi
Asumsi merupakan kebalikan dari postulat. Bila postulat dalam mengajukan argumentasinya tidak memerlukan bukti tentang kebenarannya, sedangkan asumsi harus ditetapkan dalam sebuah argumentasi ilmiah.          Agar tidak memilih cara yang keliru, maka asumsi yang kita pegang kebenarannya harus dibuktikan.

DAFTAR PUSTAKA


Endraswara Swardi, Filsafat Ilmu. PT Buku Seru. Yogyakarta. Cet ke-1. 2012.

http://dorokabuju.blogspot.com/2012/05/hakikat-ilmu-pengetahuan.html access on            Wednesday, November 5th, 2014 at 11.31 WIB

http://www.bimbie.com/mendapatkan-ilmu-pengetahuan.htm access on Wednesday,         November 5th, 2014, 14.18 WIB

Suriasumantri, Jujun S. 1990. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Sinar Harapan.

1 komentar:

  1. BOLAVITASPORTS PREDIKSI SKOR TERPERCAYA DAN TERAKURAT

    JADWAL SABUNG TERLENGKAP agen adu ayam terbesar sejak 2014


    Agen Togel Online Terbaik & Terlengkap !
    Tersedia Pasaran Hongkong - Sydney - Singapore
    Diskon Potongan 2D = 30% | 3D = 59% | 4D = 66%
    Dapatkan Keuntungan Dalam Menebak Angka Hingga Ratusan Juta Setiap Hari..
    Yuk Gabung Bersama Bolavita Di Website www. b-o-l-a-v-i-t-a .fun
    Untuk Info, Bisa Hubungi Customer Service Kami ( SIAP MELAYANI 24 JAM ) :
    BBM: BO-L-A-V-I-T-A
    WA: +62-8-1-2-2-2-2-2-9-9-5

    BalasHapus